|
| Ilustrasi: Seorang bloger sedang memikirkan ide tulisan. |
Sejak 15 tahun yang lalu saya mengeblog, ratusan (mungkin ribuan) postingan sudah saya tulis. Seandainya ada yang bertanya: "Mas, dari mana sih dapat idenya sampai bisa menghasilkan tulisan sebanyak itu?" Tentu saja dari pengalaman sendiri atau membaca tulisan orang lain di buku, majalah, dan internet.
Postingan ini tidak membahas tentang bagaimana menulis untuk blog, tapi bagaimana menghasilkan tulisan yang lebih serius, misalnya menulis buku atau cerpen. Meskipun begitu, saya yakin ini juga bisa diterapkan oleh blogger.
Pertanyaan yang sering menghantui saya ketika menulis untuk blog adalah bukan dari mana idenya, tapi pertanyaan: "Apakah ide saya ini cukup bagus?" Apakah ada orang yang mau membaca tulisan saya?
Saya yakin penulis serius pernah mengalaminya. Kita punya sebuah benih tulisan atau ide cerita di kepala. Mungkin tentang seorang perantau yang berjuang di ibu kota, atau tentang persahabatan yang retak karena salah paham. Ide itu terasa personal, terasa hidup. Tapi kemudian, suara kritikus dari dalam diri berbisik, "Ah, cerita kayak gini sudah ada sejuta. Nggak orisinal!" Akhirnya, ide yang terasa hangat itu kita simpan kembali di laci pikiran. Kita berusaha keras mencari konsep yang "wah", yang high-concept, yang belum pernah ada sebelumnya. Hasilnya? Kita tidak menulis apa-apa. Laci pikiran makin penuh, sementara halaman kosong di layar laptop seolah mengejek kita.
Saya sering batal menerbitkan artikel tutorial karena menganggap tutorial yang saya tulis sudah banyak dan tidak orisinal.
Jika Anda merasakan ini, saya ingin memberitahu Anda: berhentilah cemas. Tekanan untuk mencari "ide besar" adalah jebakan paling umum yang membuat penulis mandek.
Apakah Anda berencana menulis buku atau cerpen? Rencana hanya tinggal rencana dan tidak pernah jadi kenyataan?
Rahasianya Bukan di Ide, Tapi di Eksekusi
Mari kita jujur. Hampir semua plot dasar di dunia ini sudah pernah diceritakan. Kisah cinta penuh drama, pengkhianatan dan dendam, perjuangan meraih mimpi, kehilangan. Semuanya sudah ada. Novelis pemenang Man Booker Prize, George Saunders, pernah berkata bahwa banyak orang terjebak karena menunggu "ide yang cukup besar", padahal mereka seharusnya mulai menulis saja untuk memberi ide itu kesempatan bertumbuh.
Pengalaman saya selama 15 tahun ini, dan terutama saat proses melelahkan menulis buku sains, mengajarkan saya satu hal fundamental: Ide awal hanyalah sebuah pemantik.
Saat saya menulis buku sains, konsep dasarnya sederhana: menjelaskan konsep biologi yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak SMP. Ide ini jelas tidak baru. Sudah banyak buku sains populer di luar sana. Jika saya berhenti karena merasa idenya "biasa saja", mungkin saya tidak akan pernah menyelesaikan bagian saya.
Setali tiga uang dengan artikel-artikel yang saya unggah di situs web, sudah ada juga yang menulis, ratusan bahkan mungkin ribuan artikel serupa.
Yang membuat sebuah karya menjadi unik bukanlah kebaruan idenya, melainkan eksekusinya. Dan eksekusi itu datang dari elemen yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh siapa pun di dunia ini: Anda.
DNA Kreatif Anda adalah Senjata Paling Ampuh
Bayangkan diri Anda sebagai seorang ilmuwan. Semua yang pernah Anda alami—buku yang Anda baca, film yang Anda tonton, percakapan di warung kopi, sakit hati yang Anda rasakan, safar yang mengubah cara pandang Anda, bahkan lelucon receh dari teman Anda—semua itu adalah data. Kumpulan data ini membentuk sesuatu yang saya sebut sebagai DNA Kreatif.
DNA ini 100% unik milik Anda, selain voice.
Jadi, ketika Anda menulis cerita tentang hancurnya sebuah pernikahan—meski sudah ada ribuan cerita serupa—cara Anda melihatnya akan berbeda. Detail yang Anda pilih, dialog yang Anda tulis, rasa frustrasi atau kesepian yang Anda tonjolkan, semuanya akan disaring melalui DNA Kreatif Anda yang unik.
Itulah yang akan membuat cerita Anda terasa segar, hidup, dan orisinal. Tugas Anda sebagai penulis bukanlah mencari ide yang belum pernah ada, melainkan menceritakan sebuah ide—ide apa pun—sejujur mungkin sesuai dengan cara Anda memandang dunia.
Film dengan latar belakang konflik rumah tangga sudah banyak. Faktanya produser masih saja memproduksi film dengan latar belakang begitu dan hasilnya wow, contohnya Gone Girl.
Tulislah Apa yang Membuat Anda Terobsesi
Maka, lupakan sejenak tentang apa yang menurut orang lain keren atau apa yang sedang tren. Tanyakan pada diri Anda: cerita apa yang terus-menerus kembali ke pikiran saya? Karakter siapa yang tidak bisa saya lupakan? Masalah apa yang membuat saya gemas dan ingin mengupasnya?
Itulah cerita yang harus Anda tulis.
Menulis adalah pekerjaan yang menuntut energi luar biasa. Anda harus rela merevisi satu kalimat puluhan kali, membuang paragraf yang Anda sukai demi keutuhan cerita, dan menghidupkan karakter yang terasa nyata. Pekerjaan telaten ini hanya bisa Anda lakukan jika Anda benar-benar peduli, atau bahkan terobsesi, dengan cerita Anda. Sekadar Anda tahu, postingan ini tidak sekali jadi, saya koreksi belasan kali.
Orisinalitas bukanlah tujuan yang harus dikejar; ia adalah produk sampingan dari proses menulis yang jujur dan personal.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?
Sederhana: mulai saja menulis.
Buka laptop Anda. Abaikan dulu keraguan tentang apakah ide ini akan jadi novel atau sekadar cerpen. Tulis saja adegan yang ada di kepala Anda. Tulis tentang tetangga yang terlalu sibuk dengan urusan orang. Tulis tentang mahasiswa yang merasa salah jurusan. Tulis tentang hal yang paling "biasa" tapi terus mengganggu pikiran Anda. Tulis kebusukan para kage di negeri konoha. Atau ... ah Anda pasti lebih tahu.
Percayalah pada prosesnya. Masuklah ke dalam ladang gelap imajinasi Anda dan tanam benih yang paling membuat Anda penasaran. Dengan siraman DNA Kreatif Anda, sesuatu yang unik pasti akan tumbuh.
Sekarang, buka laptop Anda, dan mulailah menanam.
Catatan!
Tulisan ini adalah nasihat untuk diri saya sendiri.
