Lompat ke konten
Voice Penulis: Rahasia Menemukan Gaya Menulis yang Unik
Voice Penulis: Rahasia Menemukan Gaya Menulis yang Unik
Ringkasan Tulisan Apa itu voice penulis dan bagaimana menemukannya? Pelajari tanda-tanda, proses pembentukan, dan cara mengembangkan voice unik Anda sendiri.

Voice Penulis: Rahasia Menemukan Gaya Menulis yang Unik

Diperbarui:  Belum ada komentar

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan langsung tahu siapa penulisnya, bahkan tanpa melihat namanya? Itulah yang disebut voice atau gaya penulisan—kualitas yang tak terlukiskan, namun sangat kuat, yang membuat tulisan Anda unik dan tak tertukar.

Tapi apa sebenarnya voice itu? Dan bagaimana cara menemukannya? Mari kita telusuri bersama.

Apa Itu Voice Penulis?

Voice penulis adalah ciri khas yang membentuk cara seorang penulis menyusun kata, kalimat, dan gagasan—sebuah "tanda tangan" tak tertulis yang membuat tulisannya bisa dikenali meski tanpa nama penulis di atasnya. Berbeda dari gaya yang bisa berganti-ganti sesuai kebutuhan, voice adalah lapisan identitas yang tetap ada di balik gaya apa pun yang dipakai.

Voice penulis: ilustrasi jati diri dalam tulisan

'Voice' Bukan Sekadar Gaya

Ingat, voice tidak sama persis dengan gaya. Seorang penulis bisa menguasai berbagai gaya penulisan, mulai dari formal hingga santai, sesuai kebutuhan—keterampilan yang juga saya bahas di Masih Perlukah Kemampuan Menulis di Era AI?. Namun, di balik semua gaya itu, voice seseorang tetap mewujud. Bayangkan ia sebagai DNA frasa Anda—campuran unik dari semua yang telah Anda pelajari, baca, alami, praktikkan, dan umpan balik yang Anda terima, semuanya terangkum dalam cara Anda menyusun kata-kata.

Sama seperti suara asli kita yang berbeda satu sama lain—timbre, intonasi, volume, dan kecepatan pelafalan—voice tulisan juga demikian. Terkadang, kita mungkin tidak menyukai suara kita sendiri saat mendengarnya dari rekaman. Namun, voice sejati kita terasa paling nyata saat kita "mendengarnya dari dalam." Voice tulisan pun begitu.

Voice vs. Gaya vs. Tone: Apa Bedanya?

Ketiga istilah ini sering tertukar. Berikut ringkasannya agar lebih jelas:

Aspek Voice Gaya Tone
Sifat Tetap, melekat pada diri penulis Fleksibel, bisa berganti sesuai kebutuhan Berubah-ubah, tergantung topik dan audiens
Untuk siapa Alat penulis untuk mengenali standar tulisannya sendiri Disesuaikan untuk kenyamanan pembaca Ditujukan untuk membangun hubungan dengan pembaca
Contoh Cara khas seorang penulis memilih diksi dan ritme kalimat Formal, santai, akademis, jurnalistik Serius, humoris, empatik, persuasif

Pembahasan lebih dalam soal tone bisa Anda baca di artikel: Cara Mengatur Tone Tulisan Agar Disukai Pembaca dan Klien.

Apa Tandanya Anda Memiliki 'Voice'?

Mendefinisikan voice itu sulit. Bahkan penulis berpengalaman pun kesulitan menjelaskannya. Voice tidak dirancang untuk didefinisikan; ia lebih seperti garpu tala untuk frasa Anda. Voice Anda akan merasakan ketidakselarasan sekecil apa pun atau ketidakcocokan yang tipis dalam tulisan Anda. Inilah momen ajaib saat teknik bertemu dengan standar tinggi voice Anda, menandakan Anda menulis pada tingkat yang lebih mahir.

Voice sangat berharga bagi penulis itu sendiri. Gaya adalah untuk pembaca; voice adalah alat penulis. Seringkali, pembaca bahkan tidak menyadarinya.

Lalu, apakah Anda sudah memiliki voice?

  • Jika Anda masih kesulitan dengan tata bahasa dasar, tanda baca, atau terlalu sering menggunakan klise tanpa pilihan kata yang diniatkan, kemungkinan besar voice Anda belum terbentuk.
  • Jika Anda masih bisa dengan mudah menemukan banyak kekurangan atau area perbaikan objektif dalam tulisan Anda, Anda mungkin masih dalam perjalanan. Jangan khawatir—itu berarti Anda masih dalam proses belajar dan mengumpulkan "perkakas" yang dibutuhkan untuk membangun voice Anda.
  • Jika Anda pernah membaca ulang tulisan Anda dan tiba-tiba berhenti di tengah kalimat karena merasa ada yang tidak pas, itu tandanya voice Anda sedang berbicara, meminta Anda untuk memperbaikinya.
  • Jika Anda dapat membaca karya Anda sendiri dengan objektivitas yang sehat, tanpa perlu validasi orang lain untuk tahu tulisan itu bagus atau belum, itu juga tanda voice Anda mulai terbentuk.

Orang lain mungkin tidak menyukai tulisan Anda, tetapi mereka tidak bisa mengatakan itu salah atau buruk—karena voice bukan soal benar-salah, melainkan soal keaslian.

Bagaimana Voice Terbentuk?

Kabar buruknya, Anda tidak "mewarisi" voice; ia berkembang dengan sendirinya, secara otonom, dan biasanya selama bertahun-tahun. Namun, Anda bisa memberinya "makanan" yang ia inginkan.

Voice terbentuk dari:

  • Membaca secara luas dan mendalam: Bukan sekadar membaca untuk hiburan, tetapi membaca sebagai seorang penulis—menganalisis karya-karya hebat dan memahaminya.
  • Umpan balik yang terperinci dan berlandaskan ilmu: Ini mengajarkan Anda cara melihat tulisan Anda dari berbagai sudut pandang.
  • Latihan bertahun-tahun: Setiap kesalahan adalah pelajaran.
  • Mencari ide dan sudut pandang orisinal: Voice akan terasa lebih kuat ketika Anda tidak sekadar mengulang gagasan orang lain. Saya membahas ini lebih jauh di Ide Orisinal dalam Menulis? Ini yang Perlu Dilakukan.

Voice penulis adalah paradoks, ia sekaligus tidak sadar dan sangat sadar. Kita memilih kata berdasarkan suara, bentuk, makna, dan etimologinya—menolak banyak pilihan lain—hingga akhirnya, pilihan kata seperti itu menjadi naluriah. Voice Anda adalah akumulasi pelajaran, pertimbangan, rasa malu, dan "sari pati" tulisan yang Anda baca atau pembicaraan yang Anda dengar selama puluhan tahun.

Banyak penulis pemula keliru. Mereka duduk untuk menulis, hanya mengandalkan "inspirasi" atau "suasana hati." Ini wajar, tetapi seperti mengandalkan tangki kosong. Imajinasi adalah percikan, tetapi pengetahuan adalah bahan bakarnya. Tahap awal pengembangan voice membutuhkan kapasitas dan kemauan untuk belajar. Pertama, kita belajar cara kerja penulisan. Kemudian, kita biarkan ia mengalir.

Terlalu banyak penulis pemula secara tidak sengaja menghasilkan karya tiruan. Karena kecintaan mereka pada buku (tanpa teknik yang memadai), mereka cenderung meniru. Prosa mereka menjadi kolase kata dan frasa yang disalin. Ini alami, tetapi bukan menulis. Anda baru benar-benar menulis ketika kata-kata itu datang dari Anda—ketika itu adalah voice Anda, bukan suara-suara yang pernah Anda dengar. Fenomena "tulisan generik" ini juga yang membuat banyak artikel terasa seragam—termasuk artikel yang dihasilkan AI tanpa sentuhan editorial, seperti yang saya bahas di 6 Ciri Artikel Ditulis AI (dan Cara Memperbaikinya).

Hambatan terbesar adalah ketidaksabaran. Saya sadar sering terburu-buru, tidak sabaran, ingin cepat kelar lalu segera menerbitkan tulisan saya. Lalu setelah itu, beberapa waktu kemudian saya akan membacanya kembali dan seringkali menemeukan masih ada yang tidak enak. Saya juga merasa voice saya belum matang, bahkan hingga hari ini.

Apakah 'Voice' Penting?

Sebagaimana telah saya sebutkan, voice adalah hal yang sangat berguna. Ia memberitahu Anda apakah tulisan Anda telah mencapai standar tertentu. Sebagai seorang blogger, saya terbiasa menulis sekali duduk dan percaya diri bahwa itu siap untuk diunggah. Meskipun begitu, seperti yang sudah saya bilang, besoknya atau beberapa waktu setelahnya, saya akan membaca tulisan itu kembali dan seringkali menemukan ada yang tidak pas yang mengharuskan saya memperbaikinya.

Namun, ada penulis yang mungkin tidak memiliki voice. Penulis komersial dan penulis berita massal cenderung menulis dengan gaya tiruan yang seragam. Mereka menggunakan klise, lebih banyak "menceritakan" daripada "menunjukkan," dan menggunakan karakter serta kosakata generik. Itu bukan tulisan bernuansa, tetapi merupakan alat penceritaan yang efektif, meskipun dangkal. Lagi pula, pembaca mereka tidak mencari tulisan "bagus"; mereka hanya ingin narasi yang instan.

Apakah penulis semacam itu menggunakan voice? Apakah mereka membutuhkannya? Jawabannya: tulisan mereka sudah ada template-nya dan dapat direplikasi oleh siapa saja. Itu sah-sah saja jika tujuannya adalah menghasilkan tulisan ringan, cepat, dan berulang. Asumsinya bahwa tulisan itu "cukup baik"—sebaik yang dibutuhkan—bukan "sebaik yang bisa dicapai."

Bisakah Voice Berubah?

Saya yakin voice seorang penulis bisa menjadi lebih canggih dan disempurnakan. Jika kita terus membaca, belajar, dan menginterogasi karya kita sendiri untuk perbaikan, voice akan mengadopsi pengetahuan baru. Itulah mengapa kita bisa melihat sesuatu yang kita tulis tahun lalu atau minggu lalu dan menemukan hal-hal yang ingin kita ubah.

Sama seperti kesabaran sangat penting di tahap awal, rasa ingin tahu membuat kita terus maju. Selalu ada sesuatu yang baru dan menarik untuk dipelajari. Selalu ada cara baru untuk menulis dan naik kelas. Anda bisa mendapatkannya terkadang ketika Anda membaca buku-buku yang ditulis seorang penulis sepanjang hidup (dengan asumsi dia adalah penulis yang berusaha untuk berevolusi daripada terus menghasilkan hal yang sama). Karya mereka menjadi lebih dalam, lebih terkonsentrasi. Mereka jelas sangat sadar akan karya mereka dan ingin mencapai batasannya.

Mengembangkan voice penulis mirip dengan memikirkan "penyampaian" sebuah pidato. Voice bukan suara literal kita, juga bukan suara di kepala kita yang tanpa bentuk dan tanpa tata bahasa. Ia adalah bagian dari diri kita yang berkomunikasi melalui kata-kata tertulis—aktivitas yang secara fundamental tidak alami yang memanggil aspek verbal (bagaimana frasa terdengar) dan mental (bagaimana kata-kata terasa) tetapi mengekspresikannya dalam kosakata, tanda baca, dan tata bahasa.

Hanya Anda yang bisa mengenal voice Anda. Hanya Anda yang bisa memberi makan dan memeliharanya. Anda mungkin tidak pernah mendefinisikannya, tetapi Anda akan mengetahuinya ketika Anda mendengar satu voice selaras dengan hati Anda.

Ada satu hal yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan voice, yaitu tone—sikap atau emosi yang tersirat dalam sebuah tulisan terhadap topik dan pembacanya. Ini saya bahas di artikel: Cara Mengatur Tone Tulisan Agar Disukai Pembaca dan Klien.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa beda voice dan gaya menulis?

Gaya adalah pilihan yang bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan tulisan (formal, santai, jurnalistik), sedangkan voice adalah identitas yang tetap melekat pada penulis di balik gaya apa pun yang ia pakai.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan voice sendiri?

Tidak ada patokan pasti—voice biasanya terbentuk selama bertahun-tahun melalui kombinasi membaca luas, latihan menulis yang konsisten, dan umpan balik yang jujur. Semakin sering Anda menulis dan mengevaluasi ulang karya sendiri, semakin cepat voice itu mengkristal.

Apakah semua penulis harus punya voice yang kuat?

Tidak selalu. Penulis konten komersial atau berita massal sering sengaja memakai gaya seragam dan mudah direplikasi karena tujuannya adalah kecepatan dan konsistensi, bukan keunikan personal.

Bagaimana cara melatih voice dalam menulis?

Perbanyak membaca secara analitis (bukan sekadar untuk hiburan), tulis secara konsisten, minta umpan balik yang spesifik, dan biasakan membaca ulang tulisan Anda sendiri beberapa hari setelah menulisnya untuk melihat bagian yang terasa "tidak pas".


Catatan!
Topik ini saya pelajari dari tulisan James McCreet.

Bagikan
Komentar aktif!Gunakan bahasa yang jelas dan santun. Komentar pertama Anda mungkin perlu disetujui dulu sebelum tampil.

Kirim Komentar