Lompat ke konten
5 Cara Menentukan Tone Tulisan agar Disukai Pembaca
5 Cara Menentukan Tone Tulisan agar Disukai Pembaca
Ringkasan Tulisan Pelajari cara mengatur tone tulisan yang tepat agar disukai pembaca dan klien. Bedanya dengan voice, jenis-jenis tone, dan tips praktis menentukannya.

5 Cara Menentukan Tone Tulisan agar Disukai Pembaca

Diperbarui:  Belum ada komentar

Pernahkah Anda membaca sebuah pesan singkat dan langsung merasa "kok ini agak ketus ya", padahal si penulis mungkin sama sekali tidak bermaksud begitu? Itulah kekuatan tone—nada tulisan yang sering luput dari perhatian, padahal menentukan bagaimana pesan Anda diterima oleh pembaca.

Cara Mengatur Tone Tulisan Agar Disukai Pembaca dan Klien

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah membahas tentang voice—suara khas seorang penulis yang terbentuk dari bertahun-tahun membaca, berlatih, dan menerima umpan balik. 'Voice' adalah identitas yang relatif tetap. Nah, tone adalah lawan mainnya yang justru bergerak lincah, berubah-ubah mengikuti situasi, topik, dan siapa yang diajak bicara. Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang voice silahkan baca artikel saya: Rahasia Voice Penulis yang Unik.

Seorang blogger atau penulis perlu tahu tentang apa itu tone, mengaa ia penting, dan bagaimana cara menentukan tone yang tepat dalam tulisan.

Apa Itu 'Tone' dalam Tulisan?

Tone yang salah bisa membuat pesan yang sebenarnya baik-baik saja terasa menyinggung, dingin, atau bahkan tidak profesional. Sebaliknya, tone yang tepat membuat pembaca merasa dipahami, bahkan sebelum mereka selesai membaca paragraf pertama.

Beberapa alasan mengapa tone layak diperhatikan:

  • Membentuk kesan pertama. Pembaca sering menilai maksud sebuah tulisan dari nadanya bukan hanya isinya.
  • Menentukan kedekatan dengan pembaca. 'Tone' yang hangat membangun kepercayaan; tone yang kaku bisa menciptakann jarak yang tidak diinginkan.
  • Mencegah kesalahpahaman. Tanpa ekspresi wajah atau intonasi suara seperti dalam percakapan langsung, tulisan sangat bergantung pada pilihan kata untuk menyampaikan maksud yang sebenarnya.
  • Menjaga konsistensi merek. Untuk bisnis atau brand, nada yang konsisten di berbagai kanal—media sosial, email, situs web—membangun citra yang mudah dikenali.

Tone berperan di level kalimat dan pilihan kata, sementara struktur tulisan—seperti gaya piramida terbalik—berperan di level penyusunan informasi. Keduanya sama-sama menentukan apakah tulisan Anda enak dibaca atau tidak."

Voice vs Tone: Perbedaan yang Sering Tertukar

Karena keduanya sama-sama berkaitan dengan "gaya" tulisan, voice dan tone memang sering disamakan atau suit dibedakan. Padahal perbedaannya cukup jelas.

Aspek Voice Tone
Sifat Relatif tetap, melekat pada penulis Berubah-ubah tergantung konteks
Fungsi Identitas dan kepribadian penulis Sikap terhadap topik dan pembaca tertentu
Contoh Gaya khas yang sama di semua tulisan Serius saat genting, santai saat promosi
Analogi Kepribadian seseorang Suasana hati seseorang

Penulis yang sama, dengan voice yang sama, bisa menghasilkan tulisan denga tone yang berbeda-beda, misalnya formal, santai, empatik, atau tone tegas—tergantung apa yang dibutuhkan dalam momen itu.

Jenis-jenis Tone dalam Tulisan

Tone bisa sangat beragam, tapi berikut beberapa yang paling sering muncul dalam berbagai jenis tulisan:

Formal
Digunakan dalam laporan resmi, surat, atay dokumen akademis. Ditandai dengan struktur kalimat yang rapi, minim singkatan, dan pilihan kata yang baku. Pokonya sesuai dengan EYD. Contoh: "Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan Anda akibat gangguan layanan ini."

Santai (kasual)
Cocok untuk blog personal, media sosial, atau komunikasi antar teman. Menggunakan bahasa sehari-hari, kadang diselingi humor. Contoh: "Waduh, maaf banget ya websitenya sempat ngadat sebentar."

Persuasif
Sering dipakai dalam copywriting atau tulisan iklan (pemasaran), merayu pembaca dengan tujuan meyakinkan mereka untuk bertindak, misalnya checkout.

Empatik
Digunakan saat menyampaikan berita kurang menyenangkan atau menaggapi keluhan, menunjukkan pengertian kepedulian terhadap perasaan pembaca. Contoh: "Kami paham betul keadaan Anda, sayangnya kamar rawat inap penuh. Kami rujuk ke rumah sakit lain agar Anda mendapat pertolongan segera. Maaf, kami tidak bisa merawat Anda di sini."

Otoritatif
Menunjukkan kredibilitas dan kepercayaan diri, biasa di pakai oleh narasumber yang ingin membangun kepercayaan pembaca. Tone otoritatif yang dibangun dari pengalaman nyata biasanya terasa lebih meyakinkan dibanding tone generik yang sering muncul di tulisan hasil AI—pembaca cenderung bisa merasakan bedanya.

Playful (jenaka)
Ringan, penuh permainan kata, sering dipakai brand yang terasa dekat dan tidak kaku dengan audiensnya.

5 Cara menentukan 'Tone' yang Tepat

Tidak ada tone yang "paling benar"-yang ada adalah tone yang sesuai dengan konteksnya. Lihat situasi. Berikut beberapa hal yang bisa membantu Anda menentukan nada yang tepat:

  1. Kenali audiens Anda. 'Tone' untuk pembaca profesional yang bergelut di dunia keuangan tentu berbeda dengan tone untuk pengikut media sosial.
  2. Pahami tujuan tulisan. Apakah Anda ingin menginformasikan, meyakinkan, menghibur, minta maaf, atau sekadar bercuap-cuap? Tujuan ini akan mengarahkan tone yang paling pas.
  3. Perhatikan platform. 'Tone' di LinkedIn biasanya lebih formal dibanding tone di Instagram atau Twitter/X.
  4. Sesuaikan dengan situasi emosional topik. Topik sensitif membutuhkan tone yang lebih hati-hati dan empatik, sementara topik ringan bisa lebih fleksibel dan playful.
  5. Baca ulang dengan suara jahar. Cara ini efektif untuk menangkap nada yang terlalu keras, terlalu dingin, atau tidak pas dengan maksud aslinya.

Saya uraikan satu-satu agar lebih jelas.

1. Kenali Audiens Anda

'Tone' untuk pembaca profesional yang bergelut di dunia keuangan tentu berbeda dengan tone untuk pengikut media sosial. Sebelum menulis satu kalimat pun, tanyakan pada diri sendiri: siapa yang akan membaca ini?

Seorang praktisi keuangan mengharapkan bahasa yang presisi dan terukur—istilah teknis boleh dipakai tanpa banyak basa-basi. Sebaliknya, pengikut media sosial biasanya lebih menghargai tone yang ringan, akrab, dan tidak berjarak. Coba bayangkan Anda menulis untuk dua audiens ini:

  • Untuk klien korporat: "Laporan kinerja portofolio menunjukkan pertumbuhan yang stabil pada kuartal ini."
  • Untuk followers Instagram: "Portofolio kita lagi on fire nih kuartal ini!"

Isi pesannya sama, tapi tone-nya jauh berbeda karena audiensnya berbeda. Semakin detail Anda mengenali audiens—usia, latar belakang, ekspektasi mereka terhadap Anda atau brand Anda—semakin mudah menentukan tone yang pas.

2. Pahami Tujuan Tulisan

Apakah Anda ingin menginformasikan, meyakinkan, menghibur, minta maaf, atau sekadar bercuap-cuap? Tujuan ini akan mengarahkan tone yang paling pas.

Setiap tujuan menuntut nada yang berbeda:

  • Menginformasikan → tone netral dan jelas, fokus pada fakta tanpa banyak bumbu emosional.
  • Meyakinkan → tone persuasif, penuh keyakinan, kadang disertai urgensi.
  • Menghibur → tone playful, boleh sedikit berlebihan atau jenaka.
  • Minta maaf → tone empatik dan rendah hati, hindari kesan defensif.
  • Sekadar bercuap-cuap (small talk) → tone santai, mengalir seperti obrolan biasa.

Kesalahan yang sering terjadi adalah mencampur tujuan tanpa sadar—misalnya menulis permintaan maaf dengan tone yang terlalu formal dan kaku, sehingga terasa seperti template, bukan permintaan maaf yang tulus. Sebelum menulis, tentukan dulu satu tujuan utama, baru sesuaikan tone-nya.

3. Perhatikan Platform

'Tone' di LinkedIn biasanya lebih formal dibanding tone di Instagram atau Twitter/X. Ini karena setiap platform punya "budaya" dan ekspektasi penggunanya sendiri.

  • LinkedIn: audiensnya profesional, jadi tone yang kredibel dan sedikit formal lebih diterima—meski tetap boleh personal, asal tidak terlalu kasual.
  • Instagram: visual-driven dan santai, tone yang hangat dan ekspresif (termasuk emoji secukupnya) biasanya lebih nyambung.
  • Twitter/X: cepat, ringkas, kadang tajam atau jenaka—tone yang terlalu panjang dan formal justru terasa aneh di sini.
  • Blog atau website resmi: bisa jadi lebih fleksibel, tergantung brand voice yang sudah Anda bangun, tapi tetap perlu konsisten dari satu artikel ke artikel lain.

Menulis dengan tone yang sama persis di semua platform sering kali membuat pesan terasa kurang pas di salah satu tempat. Sesuaikan volume formalitas dengan "ruangan" tempat Anda berbicara.

4. Sesuaikan dengan Situasi Emosional Topik

Topik sensitif membutuhkan tone yang lebih hati-hati dan empatik, sementara topik ringan bisa lebih fleksibel dan playful.

Ini soal membaca "suhu" topik yang Anda bahas. Beberapa contoh:

  • Menulis tentang PHK, bencana, atau keluhan pelanggan → tone empatik, hati-hati memilih kata, hindari humor atau bahasa yang terkesan meremehkan.
  • Menulis tentang promo produk atau konten hiburan → tone bisa lebih playful, bebas bereksperimen dengan gaya bahasa.
  • Menulis tentang isu kontroversial → tone netral dan berimbang, hindari kesan memihak secara berlebihan kecuali memang itu tujuannya.

Kuncinya adalah empati: sebelum menulis, coba tempatkan diri Anda sebagai pembaca yang mungkin sedang berada dalam situasi emosional tertentu. Tone yang salah di momen yang salah bisa merusak kepercayaan yang sudah dibangun lama.

5. Baca Ulang dengan Suara Lantang

Cara ini efektif untuk menangkap nada yang terlalu keras, terlalu dingin, atau tidak pas dengan maksud aslinya.

Ini adalah langkah praktis yang paling mudah dilakukan tapi paling sering dilewatkan. Ketika Anda membaca tulisan dalam hati, otak cenderung "mengoreksi" nada secara otomatis sesuai maksud Anda saat menulis—padahal pembaca tidak punya akses ke maksud itu, mereka hanya punya kata-kata di layar.

Dengan membaca lantang:

  • Anda akan langsung merasakan jika sebuah kalimat terdengar terlalu kaku atau menggurui.
  • Kalimat yang terlalu panjang atau berbelit biasanya "kehabisan napas" saat dibaca—tanda bahwa kalimat itu perlu dipecah.
  • Bagian yang terasa dingin atau ketus biasanya akan terasa aneh diucapkan, meski terlihat baik-baik saja di tulisan.

Kalau memungkinkan, minta orang lain membacakannya untuk Anda, atau gunakan fitur text-to-speech. Perspektif "telinga" sering menangkap hal yang terlewat oleh "mata".

'Tone' yang Konsisten, 'Voice' yang Otentik

Voice dan tone sebenarnya bertandem, bekerja berdampingan, bukan saling menggantikan. Voice memberi Anda identitas yang membuat tulisan Anda dikenali di antara ribuan tulisan lain—dan jika Anda belum yakin bagaimana menemukan voice khas Anda sendiri, artikel saya sebelumnya membahasnya lebih dalam.". Tone memastikan identitas itu tersampaikan dengan cara yang tepat, di momen yang tepat, kepada pembaca yang tepat.

Pada akhirnya, tulisan yang baik bukan sekadar tulisan yang benar secara tata bahasa, melainkan tulisan yang terasa pas—pas voice-nya, dan pas tone-nya. Di era di mana AI bisa menghasilkan tulisan yang benar secara tata bahasa dalam hitungan detik, tone yang otentik justru menjadi salah satu cara menulis melawan mesin AI—sesuatu yang sulit ditiru begitu saja."

Bagikan
Komentar aktif!Gunakan bahasa yang jelas dan santun. Komentar pertama Anda mungkin perlu disetujui dulu sebelum tampil.

Kirim Komentar